Minggu, 09 Februari 2020

Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

by canva
image by canva

Dalam Dekap

- untuk Bocah Iswara

Dalam gelap aku mengecup keningmu, selamat tidur bayi kecil, aku 'kan pergi ke negeri yang takkan dapat lagi kau temui, satu-satunya cara agar kita bersua di dekat telaga, tulislah puisi-puisi tentang orang mati, yang kukunya jadi kunang-kunang, yang sedih riwayatnya mengalir di matamu. Di dekat itu, kecupanku dalam gelap lalu akan lampu, jadi api ke langit menuju, aku adalah cahaya itu.

Januari 2020


Tones

Entah pada ketukan sepatu ke berapa langkahmu terpuruk, aku masih setia menunggu hadirmu, meski kantuk begitu rasuk. (51) memeluk guling ungu, hatiku lebab diserang ragu, akankah kau pulang bersama sekantong jambu yang padan dengan warna bibirku, (52) di atas segala mungkin, hanya harapan-harapan dingin bersikeras, percakapkan rencana pelukan dan segala runyam. (53) bila kau pulang, tubuhmu ditumbuhi debu, aku mencopot bajumu, celana dalammu tanpa malu-malu. Kuajak kau berendam dan hanyutkan segala daki-daki harian (54) air beserta airmatamu tak dapat kubedakan, katamu: sayang kenapa bayang-bayang putih kematian lebih panjang dari keyataan hitam kehidupan? (55) aku hanya bisu, karena jawaban di kepalaku ada beribu (56) kenapa diam sayang, adakah aku bagimu segenap beban ganjil yang tak mampu kau ringankan? Maafkan aku sayang, kadang garang dan garing kasih sayang. (57) aku memeluknya riang, tubuhku mendadak meriang. (58) kau sakit sayang, mari kutekan-tekan pelan kepalamu sembari urai kecupan dari bibirku jalang. (59) aku hanya nangis sembari tangan kiri tak ubah gapai-gapai lelah wajah Tuhan. (60) kenapa kesalahan kita lebih besar dari riwayat pengusiran? Kenapa kau datang lagi lagi dengan birahi yang membuat aku berlubang? Kenapa harus ada kamu yang liar tanpa perundungan dan aku yang liar dengan segala bahaya terbiar? Kenapa kau menemukan aku dan merusakku tak berpenghabisan? Bunuh aku dengan cintamu, hancurkan!

Aku hendak tidur dan raba dada Tuhan, tapi tanganku berdarah tanpa penyebab selain pikiran. Aku 24 jam telanjang sementara kau mengecup-ngecup pergelanganku yang pucat dan izrail melambai-lambai manja di jangat.

2019


Tentang penulis:



Muhammad Asqalani eNeSTe. Suka belajar ini dan itu. Suka dengan hal-hal unik. Mengajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ingin keliling dunia dengan prestasi. Pendiri Community Pena Terbang. IG: @muhammadasqalanie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar