Rabu, 26 Februari 2020

Puisi-puisi Solu Erika

Engkling*


Garis tergambar di tanah kering
Halaman sekolah tujuan saat bel istirahat menggema
Ketika musim hujan, menelan korban; kapur
Mencari cuilan genting di pinggir tiang bendera
Terkumpul di kotak pertama
"Itu punyaku, ini punyaku, yang itu milikku,"
Suaru bukti kepemilikan

"Hompimpa layum gambreng"
"gambreng"
Ternyata aku mengawali lebih dulu
Permainan dimulai
Bergilir,
Kaki aku kerap menginjak garis
Entah, apa sebabnya dalam permainan nasibku selalu miris

Madiun, 26 Februari 2020

*engkling: engklek dalam bahasa Jawa.

Ludruk


Nenek bilang, "Ludruk, sikile gedruk-gedruk,"
Pertunjukan istimewa, di balai desa
Katanya, saat kecil aku dipangku menyaksikan pentas itu

Katanya, aku selalu bosan di tengah-tengah pagelaran
Merengek-rengek meminta jajan
Pikirku mulai berhamburan, kapan aku menjadi penonton?
Ludruk itu apa?

"Kamu lupa nduk, saat itu kamu masih balita," celetuk ibu.
Lalu, sekarang di mana aku menemukannya?
"Sekarang, lebih asik memainkan benda pipih di sakumu," sahutnya
Coba sekali saja buka situs budaya jangan hanya memposting status WA


Madiun, 26 Februari 2020

Tentang penulis:

Solu gadis berumur 17 tahun ini bernama asli Solu Erika Herwanda, lahir di Madiun, 26 November 2002. Hobinya menulis, dari diary menuju aplikasi word sering mengikuti event dan juga beberapa kali menjadi kontributor, pernah juga menjuarai lomba cipta puisi bertema NKRI. Beberapa puisinya menjadi antologi bersama di beberapa penerbit. Meski bukan anak sastra, sama sekali tak mematahkan semangatnya untuk terus berkarya dan bersaing. Bergiat di COMPETER Muda Indonesia dan COMPETER Cabang Madiun.
Ig : solu.ryka26

Puisi-puisi Dayat

DocPlayer.info

Babat bak Gundulmu yang Pitak

Pangkas! Potong!
Bergantikan bata merah yang menjulang
Beralaskan hitamnya aspal

Tebas! Tebang!
Hirap sudah rambut yang tumbuh di kepala pitakmu
Katanya: *isis, tak ada kutu

Sidoarjo, 12 Januari 2020

Note : *sejuk

Suara Alam

1
rintik gerimis
payung teduh terbuka
jalan berdua

2
air menggenang
bocah bermain lumpur
tawa bersama

3
datang air bah
kapal sudah mengapung
rumah tenggelam

4
gelap angkasa
riuh gemerlap kota
aku termenung

5
badai berlalu
tersisa puing bata
raga bersujud

Sidoarjo, 5 Januari 2020


Maling di Pulau Surga

Mega mendung itu tak menitihkan air matanya ke tepi
Ia hanya tandang pergi tanpa permisi
Tebing-tebing tepi hutan terlihat mengkilap kering kerontang tanpa air mengaliri
Ras insan pun linglung tak tertahankan lagi
Teriaknya: siapa maling yang mencuri sumber air mata dari kami?
Cuitan kakaktua terdengar parau: para tikus berdasi dengan nafsu duniawi

Sidoarjo, 21 Februari 2020

Tentang penulis:

Namaku Dayat, anak Sidoarjo yang berkembang untuk mencari arti sebuah nama. Menulis beberapa coretan untuk dikenang dan mungkin juga bisa menjadi suatu hal yang membanggakan. Bergiat di COMPETER.

Akun IG: @achmad.rizal.hidayatullah

Selasa, 25 Februari 2020

Puisi-puisi Restu Iswara

Jatuh Hati


Sekian jam
Didekap dingin
Tak redup
Nyalang matamu
Tak beku
Jatuh hatiku

Cidokom, 09-02-2020


Rindu


Sawah, kerbau, belalang, layang-layang,
dan sekumpulan anak berkejaran.
Kapan kita jumpa kembali?

Bogor, 23 Februari 2020

Tentang penulis:

Restu Iswara, seorang penyuka sirkus kata dan sedang jatuh hati. Bergiat di COMPETER. Ia juga merupakan pengurus PC. IPNU Kab. Bogor. | IG : restu.iswara14

Minggu, 09 Februari 2020

Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

by canva
image by canva

Dalam Dekap

- untuk Bocah Iswara

Dalam gelap aku mengecup keningmu, selamat tidur bayi kecil, aku 'kan pergi ke negeri yang takkan dapat lagi kau temui, satu-satunya cara agar kita bersua di dekat telaga, tulislah puisi-puisi tentang orang mati, yang kukunya jadi kunang-kunang, yang sedih riwayatnya mengalir di matamu. Di dekat itu, kecupanku dalam gelap lalu akan lampu, jadi api ke langit menuju, aku adalah cahaya itu.

Januari 2020


Tones

Entah pada ketukan sepatu ke berapa langkahmu terpuruk, aku masih setia menunggu hadirmu, meski kantuk begitu rasuk. (51) memeluk guling ungu, hatiku lebab diserang ragu, akankah kau pulang bersama sekantong jambu yang padan dengan warna bibirku, (52) di atas segala mungkin, hanya harapan-harapan dingin bersikeras, percakapkan rencana pelukan dan segala runyam. (53) bila kau pulang, tubuhmu ditumbuhi debu, aku mencopot bajumu, celana dalammu tanpa malu-malu. Kuajak kau berendam dan hanyutkan segala daki-daki harian (54) air beserta airmatamu tak dapat kubedakan, katamu: sayang kenapa bayang-bayang putih kematian lebih panjang dari keyataan hitam kehidupan? (55) aku hanya bisu, karena jawaban di kepalaku ada beribu (56) kenapa diam sayang, adakah aku bagimu segenap beban ganjil yang tak mampu kau ringankan? Maafkan aku sayang, kadang garang dan garing kasih sayang. (57) aku memeluknya riang, tubuhku mendadak meriang. (58) kau sakit sayang, mari kutekan-tekan pelan kepalamu sembari urai kecupan dari bibirku jalang. (59) aku hanya nangis sembari tangan kiri tak ubah gapai-gapai lelah wajah Tuhan. (60) kenapa kesalahan kita lebih besar dari riwayat pengusiran? Kenapa kau datang lagi lagi dengan birahi yang membuat aku berlubang? Kenapa harus ada kamu yang liar tanpa perundungan dan aku yang liar dengan segala bahaya terbiar? Kenapa kau menemukan aku dan merusakku tak berpenghabisan? Bunuh aku dengan cintamu, hancurkan!

Aku hendak tidur dan raba dada Tuhan, tapi tanganku berdarah tanpa penyebab selain pikiran. Aku 24 jam telanjang sementara kau mengecup-ngecup pergelanganku yang pucat dan izrail melambai-lambai manja di jangat.

2019


Tentang penulis:



Muhammad Asqalani eNeSTe. Suka belajar ini dan itu. Suka dengan hal-hal unik. Mengajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ingin keliling dunia dengan prestasi. Pendiri Community Pena Terbang. IG: @muhammadasqalanie

Senin, 03 Februari 2020

Puisi-puisi Bertema Hujan

Hujan seringkali membawa ingatan kepada rinai kenangan, rintik-rintik harapan, juga gigil kedatangan pun perpisahan. Berikut ini hujan kami, selamat menikmati hujan ala Sahabat Sayap Madiun. 😆

Kuy, tulis hujanmu juga! 😄 


Latar di Awal Februari

Oleh: Andika DS.

malam ini kudiselimuti mendung hitam tanpa ada kelip bintang dan bulan pun bersembunyi. tangisan anak kecil mulai sayu tercampur sendu, nan ingin bertemu bapaknya. ia berlari ke jendela sembari intip rinai-Nya basahi latar penuh dengan kerinduan serta dinginnya malam. kidung katak entah kemana tak terdengar di awal bulan, hanyalah rinai-Nya memainkan melodi rindu nan terus menidurkan anak kecil di pelukan Ibu

Rumahku, 01-02-2020


HUJAN 

Oleh; Dewi Amara

Hujan di awal Februari tiada henti, pelataran penuh tergenangi serupa genang tentangmu di hati. Pucuk melati basah enggan menengadah seperti saat di mana aku tertunduk pasrah kala engkau ucapkan salam untuk berpisah.

Sementara di dahan cengkeh kutilang tetap bernyanyi riang seakan memberikan isyarat  tentang ketabahan di mana kuyup tiada menghalanginya terbang. Angan kembali melayang mencari celah jalan menujumu pulang

Sementara hujan di luar belumlah reda, embun pada kaca jendela setia menahan duka. Kepada siapakah ia mampu becerita? Akan segala hasrat yang selalu dijaga 


Hujan menggenang
Menutup lubang lubang
Langkahku bimbang 

Ngawi 010220


SEUNTAI RINDU DI MUSIM HUJAN

Karya : Dewi Amara

Katamu, rindu itu seperti hujan
Rintiknya dinantikan pucuk-pucuk rerumputan
Dinginnya dielukan daun-daun kesepian
Iramanya selalu menjadi tema puisi cinta paling dalam

Duhai, hujan yang menitiskan rinai
Sejuknya rindu dalam kalbu engkau semai
Kautitipkan kepada angin tentang arti sepoi-sepoi
Semilirmu bak bayu mencairkan salju kenangan
Mengisi rongga-rongga yang takjub akan kesetiaan

Duhai, basahi aku yang serupa tanah gersang
Sekian lama menunggumu bertandang
Membawa seikat bunga kemesraan
Membelai segala ruang jiwaku nan gamang
Meniupkan simfoni merdu di sepanjang malam
Disaksikan ribuan mata gumintang

Tuan
Telah lama kau mencuri angan
Angan yang setia dengan bayang-bayang
Memintal asa tentang sebuah pertemuan
Kita bergandeng sejalan mrenda bulir kerinduan
Saling mengusap luka dari kejamnya kehidupan

Ngawi, 01/02/2020


Hujan dan Sepasang Angsa 

Oleh : Julie Binjie

Telaga itu sunyi dan tenang
Teratai mulai berkembang
Sepasang angsa saling pagut dan riang
Tak peduli ada mata yang kalah di seberang

Awan hitam perlahan mendekat
Sudah tak tahan menahan berat
Menjatuhkan bulir-bulir bermacam ukuran
Memecah telaga dan bergerak ke tepian

Dua angsa bahagia
Dua bola mata nestapa
Saling sapa di antara derai rintik hujan 
Saling simpan rahasia paling dalam

Des 2019


Kau dan Hujan Lain di Hatiku

Oleh: Ika Marwah

Rinai, gemuruh geledek di luar sana
Pun genang kenangan di sini
Menjadi hujan lain di hatiku
Hujan yang lebatnya tak tahu kira
Hujan yang entah kapan berhenti

Aku masih merutuki pergimu
Kekosong-gamangan lama
Usai perpisahan di ujung jalan itu
Kau tak menoleh
Tak sekalipun

Aku membatu
Di  gigil dingin genangan
Air mata perpisahan
Yang kau sebabkan

IM, 022020